peternakan

Kamis, 01 Oktober 2009

PENGARUH IKLIM TERHADAP TERNAK

Kondisi Iklim di Indonesia

Berdasarkan gambaran curah hujan, Mohr (1933) membagi daerah-daerah di Indonesia ke dalam 5 golongan, yaitu sebagai berikut :

1. Daerah basah, yakni daerah yang hampir setiap bulannya mempunyai curah hujan minimal 60 mm.

2. Daerah agak basah, yakni daerah dengan periode kering yang lemah dan terdapat satu bulan kering.

3. Daerah agak kering, yaitu daerah-daerah yang mengalami bulan-bulan kering sekitar 3-4 bulan setiap tahunnya.

4. Daerah kering, yakni daerah yang mengalami bulan-bulan kering yang lamanya mencapai 6 bulan.

5. Daerah sangat kering, yakni daerah dengan masa kekeringan yang panjang dan parah.

Sementara Schmidt dan Ferguson (1951) membagi iklim di Indonesia menjadi 8 golongan, yaitu golongan A (sangat basah), golongan B (basah), golongan C (agak basah), golongan D (sedang), golongan E (agak kering), golongan F (kering), golongan G (sangat kering), dan golongan H (luar biasa kering).

Pengaruh Iklim Terhadap Ternak

Iklim sangat berpengaruh terhadap hewan ternak. Beberapa ahli mempelajari pengaruh iklim terhadap objek yang spesifik, di antaranya iklim berpengaruh terhadap bentuk tubuh (Hukum Bergmann), insulasi pelindung atau kulit dan bulu (Hukum Wilson), warna (Hukum Gloger), tubuh bagian dalam/internal (Hukum Claude Bernard), dan kesehatan dan produksi ternak. Temperatur lingkungan mempengaruhi penggunaan energi yang diperoleh ternak dari makanan, produksi panas, dan disipasi panas hewan ternak ke lingkungannya. Radiasi sinar matahari

terhadap hewan ternak dapat menimbulkan dua bentuk gangguan umum, yaitu mutasi gen oleh radiasi kosmik dan kerusakan sel kulit oleh sinar ultra violet pada proses 'sunburn'. Hewan ternak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.

Pengaruh langsung iklim terhadap ternak

Penelitian pada pengaruh langsung iklim pada ternak telah didapatkan dari 2 sumber: pengamatan yang langsung ternak di lapangan dan pengamatan tehadap ternak yang dipelihara di laboratorium atau di kamar psychormetric. Kerugaian pengamatan langsung di lapangan adalah sukar menyelenggarakan percobaan lapanganyang cukup terkontrol, sedangkan kerugian pengamatan dengan memakai kamar psychrometric yaitu tidak banyak ternak yang dapat diselidiki pada waktu tertentu padahal sudah diketahui bahwa ada perbedaan-perbedaan yang besar antar spesies (Findlay, 1954), di antara bangsa stau tipe, bahkan di antara species (Worstell dan Brody, 1953) dan juga antara individu dalam satu breed (Payne dan Hancock, 1953) dan juga antara individu dalam satu breed (Payne dan Hancock, 1957) terhadap kemampuan mereka bertahan pada pengaruh langsung iklim.

Semua ternak domestik termasuk hewan berdarah panas (homeotherm) yang berarti ternak berusaha mempertahankan suhu tubuhnya pada kisaran yang paling cocok untuk terjadinya aktivitas biologis yang optimum. Kisaran yang normal pada jenis mamalia adalah 37-390 C, sedangkan pada burung adalah 40-400C dengan beberapa perkecualian.

Untuk mempertahankan suhu tubuhnya terhadap suhu lingkungan yang sangat bervariasi, ternak domestik harus mempertahankan keseimbangan panas antara panas yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang didapat dari lingkungannya dengan panas yang hilang ke lingkungannya.

Perbaikan iklim Mikro kandang

Upaya Perbaikan Iklim Mikro Kandang dan Respons Termoregulasi Kambing Jantan Peranakan Ettawa Melalui Penggunaan Berbagai Bahan Atap Masalah utama dari ternak yang dipelihara di daerah tropis basah, seperti di Indonesia, adalah tingginya radiasi matahari secara langsung sepanjang tahun, khususnya bagi ternak berproduksi tinggi, sehingga ternak dalam kondisi uncomfort karena beban panas yang berlebih. Respons dari masalah ini adalah ternak terpaksa meningkatkan aktivitas termoregulasi guna mengatasi beban panas yang dideritanya. Mekanisme fisiologis mengharuskan alokasi energi untuk kinerja produksi maupun reproduksi dipakai untuk mempertahankan keseimbangan panas tubuh. Dengan demikian, akan berdampak buruk yaitu penurunan produktivitas ternak. Salah satu care untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengendalikan panas yang diterima dan peningkatan panas yang terbuang oleh ternak, yaitu pemberian naungan atau atap dan pemilihan bahan atap yang lebih efektif dalam menciptakan kondisi iklim mikro kandang yang kondusif bagi ternak untuk berproduksi.Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh jenis bahan atap kandang terhadap kondisi iklim mikro kandang dan respons termoregulasi (frekuensi nafas,frekuensi denyut jantung, dan suhu rektal) kambing jantan peranakan ettawa (PE) di lingkungan panas alami. Sebanyak sembilan ekor kambing jantan PE gunakan dalam penelitian. Penelitian menggunakan ncangan acak lengkap (RAL) dengan tiga pelakuan jenis atap kandang, yaitu atap rumbia (PI), seng (P2), dan Genteng (P3), serta tiga ulangan pads masing-masing perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam yang dilanjutkan uji berganda Duncan's pada taraf 5%. Selain itu uji beda dua rata-rata juga digunakan untuk mengetahui perbedaan respons peubah pada siang dan malam.
Hasil penilitian menunjukkan:(a) jenis atap tidak mempengaruhi suhu udara, kelembaban udara, dan radiasi matahari dalam kandang;(b) kandang beratap rumbia menyebabkan respons suhu rektal lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan kambing yang ada di dalam kandang beratap genteng dan seng pada pengamatan siang, malam, dan rataan harian. Kandang beratap genteng menyebabkan suhu rektal ternak kambing lebih rendah (P<0,05) dibandingkan ternak beratap seng pada pengamatan siang dan rataan harian, namun pada pengamatan malam hari tidak berbeda;
(c) kandang beratap rumbia menyebabkan respons frekuensi pernafasan lebih rendah (P<0,05)>0,05);(d) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons frekuensi denyut jantung (P>0,05) balk pada pengamatan slang hail, malam hail, maupun rataan harian;(e) ketiga jenis atap kandang tidak menyebabkan perbedaan respons pertambahan bobot badan harian (P>0,05) pada ternak k

Klasifikasi Lingkungan

Berdasarkan tumbuhan dan hewan yang hidup dominan di dalamnya, lingkungan hidup dapat digolongkan menjadi enam, yaitu kawasan tundra, hutan berdaun jarum, hutan bermusim, hutan tropik basah, padang rumput dan padang pasir. Secara umum, ada dua komponen lingkungan, yaitu abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah semua unsur lingkungan yang tidak bernyawa yang bersifat fisik, kimia, dan sosial, misalnya lahan, air, kandang dan nilai-nilai sosial budaya dan agama; sedangkan komponen biotik adalah semua unsur hayati yang ada dalam kehidupan, misalnya musim, tumbuh-tumbuhan, dan hewan lain.

Pengaruh tidak langsung iklim terhadap ternak.

Pengaruh iklim yang tidak langsung pada ternak terutama pada kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia bagi ternak. Data dari hasil penelitian mengenai hal ini telah disimpulkan oleh payne (1969). Pengaruh tersebut tidak langsung dari iklim ini juga adalah penyakit dan parasit, juga pengaruhnya pada penyimpanan dan hasil ternak.

1. Persediaan makanan

Factor-faktor yang penting yang membatasi pertumbuhan tanaman sehingga mengurangi kuantitas makanan yang tersedia adalah: suhu lingkungan, curah hujan, panjangnya hari dan idenditas radiasi cahaya. Perbedaan yang paling nyata dari pengaruh iklim ada pada daerah basah, kering dan agak kering yang menyebabkan 2 masalah besar pada makanan ternak, meskipun terdapat banyak pengecualian-pengecualian sehingga perbedaan-perbedaan itu menjadi kabur pada daerah-daerah yang beriklim sedang.

2. Parasit dan penyakit

Panas dan kelembaban yang tinggi merupakan lingkungan yang baik bagi parasit internal dan eksternal, jamur dan vector penyakit. Parasit internal tidak begitu penting pada iklim agak kering tetapi parasit eksternal adalah penting meskipun parasit ini tidak begitu banyak di daerah iklim kering oleh karena jenis vegetasi di daerah ini mempengaruhi adanya insekta pembawa penyakit maka iklim mempunyai pengaruh tidak langsung yang besar terhadap produksi ternak. Pada daerah-daerah tropik afrika dimana curah hujan cukup untuk mendukung pertumbuhan semak-semak menyebabkan ternak. juga iklim yang mendukung perkembangan stomoxys spp.

3. Penyimpangan dan penanganan hasil ternak

Semua iklim tropik baik lembab maupun kering mendukung cepat rusaknya bahan hasil ternak yang di simpan sehingga menaikkan ongkos prosesing dan penanganannya. Hal ini mempengaruhi produksi ternak secara tidak langsung oleh karena meningkatnya biaya prosesing penanganan dan penyimpanan seperti penambahan kapasitas kamar pendinginan akan menaikkan produksi bahan tertentu secara tidak ekonomis padahal tempat tersebut sebenarnya cocok untuk perkembangan industri peternakan

sumber : Bonsma, J.C.(1949) Breeding cattle for increased adaptability to tropical and subtropical environments.J.agric. Sci.(Camb), 39, 204-21.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda